Penilaian Kondisi Jembatan menggunakan BMS, BCR dan AHP untuk Menentukan Rekomendasi Penanganan (Studi Kasus : Penilaian Kondisi Jembatan Rangka Baja Tulung, Yogyakarta)

Rakhma Ratna Dewi1, Andreas Triwiyono1*, Henricus Priyosulistyo1
1Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, INDONESIA
*Corresponding author: andreas.triwiyono@ugm.ac.id

INTISARI

Jembatan perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala untuk menjaga kondisinya agar tetap berfungsi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian kondisi pada sebuah jembatan Rangka baja dengan menggunakan beberapa metode untuk menentukan rekomendasi penanganan dan memprediksi sisa umur layannya. Dalam penilaian kondisi jembatan digunakan tiga metode pemeriksaan jembatan yaitu metode Bridge Management System (BMS) yang berlaku di Indonesia dan Bridge Condition Rating (BCR) yang digunakan oleh New York State of Departement Transportation (NYSDOT) di Amerika. Selain itu, metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk penilaian kondisi komponen jembatan yang mengacu pada BCR. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kondisi jembatan Tulung berdasarkan metode BMS, BCR dan AHP berturut-turut sebesar 3 dari 5 (Rusak berat); 4,583 dari 7 (Sedang/fair) dan 4,293 dari 7 (Sedang/fair) dengan rekomendasi penanganan sama untuk ketiga metode yaitu rehabilitasi jembatan. Prediksi umur sisa layan jembatan Tulung berdasarkan metode BMS dan BCR adalah 9 tahun dan 19 tahun. Metode AHP menghasilkan kondisi yang sama dengan BCR dengan nilai diantara 3,001 – 4,999 yang masuk dalam kategori (Sedang/fair). Prioritas penanganan dengan metode BMS, BCR dan AHP menunjukkan bahwa lantai jembatan harus segera dilakukan perbaikan.

REFERENSI

Apriani, W., Megasari, S.W., dan Putri Loka, W.A. (2018). “Penilaian Kondisi Jembatan Rangka Baja Di Riau
Dengan Metode Bridge Management System.” SIKLUS: Jurnal Teknik Sipil, 4 (2), 103–110.
Bloomberg, Michael, R., Weinshall, Iris., Bergtraum, Judith, E. (2003). Bridge and Tunnels Annual Condition
Report. New york City Departement of Transportation Division of Bridge.
Dirjen Bina Marga. (1993). “Panduan Pemeriksaan Jembatan BMS.” Departemen Pekerjaan Umum Republik
Indonesia – Australian Internasional Development Assisstance Bereau.
Dirjen Bina Marga. (2010). “Panduan Penanganan Preservasi Jembatan.” Direktorat Bina Teknik. Jakarta.
Dirjen Bina Marga. (2022). “Pedoman Pemeriksaan Jembatan No.01/P/BM/2022.” Departemen Pekerjaan Umum
Republik Indonesia. Jakarta.
Harywijaya, W., Afifuddin, M., Isya, M. (2020). “Penilaian Kondisi Jembatan Menggunakan BRIDGE
MANAGEMENT SYSTEM (BMS) dan BRIDGE CONDITION RATING (BCR).” Jurnal Arsip Rekayasa Sipil dan
Perencanaan (JARSP) 3 (1), 80–88.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2015). “Persyaratan Umum Perencanaan Jembatan.” Jakarta.
Mungkasa, M.. (2008). “Penilaian Kondisi Jembatan dengan Metode NYSDOT Studi Kasus Tiga Jembatan di Kota
Kendari.” Magister Teknik Sipil Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
New York State Departement of Transportation (NYSDOT). (2004). Bridge Inspection Manual. New York.
Saaty, T., L. (1980). The Analytic Hierarchy Process: Planning, Priority Setting, Resource Allocation. McGraw-Hill
International Book Company. RWS Publications.
Setiawan, A. dan Sumargo. (2020). “Penilaian Kondisi Visual dan Prediksi Usia Sisa Jembatan Siliti dengan Metode
Bridge Management System.” Desember, 9 (1), 1–8.
Sumargo, Hakiki, R., dan Ramdhani, R. (2020). “Evaluasi Dan Penanganan Jembatan Di Pulau Nias Provinsi
Sumatera Utara Dengan Metode Bridge Management System.” Jurnal Teknik Sipil, 22 (2), 874-878.