Ira Firdayanti*,Adam Pamudji Rahardjo,Fikri Faris
1Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, INDONESIA
*Corresponding author: irafirdayanti@students.ugm.ac.id
Pasca erupsi 2010 diketahui sekitar 70 m3 sisa endapan material vulkanik menumpuk di lereng bagian selatan dan barat Gunung Merapi yang berpotensi terjadinya banjir lahar. Meskipun beberapa bangunan yang rusak telah dibangun kembali, namun kejadian-kejadian banjir yang menimbulkan kerusakan masih terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi eksisting bangunan-bangunan tersebut untuk melindungi objek-objek vital dan memberikan rekomendasi perbaikan dan/atau peningkatan kinerja bangunan. Berdasarkan hasil analisis, ketahanan rangkaian sabodam di Sungai Boyong dalam perspektif kondisi fisik secara keseluruhan menunjukkan kinerja yang baik. Tipikal kerusakan struktural yang teridentifikasi pada sabodam di zona produksi dan transportasi meliputi abrasi, retakan, dan rembesan. Selain itu, korelasi antara
kemiringan sungai dan pengaturan jarak yang belum efektif diidentifikasi sebagai salah satu faktor penyebab scouring dan kerusakan lainnya pada bangunan di hulu. Meskipun kinerja rangkaian sabodam di Sungai Boyong efektif, namun pemeliharaan tetap diperlukan, adanya pengaturan jarak antar sabodam yang optimal, dan memastikan fungsi drip hole yang krusial untuk
meningkatkan umur layan dan ketahanan infrastruktur pengendali sedimen yang berkelanjutan.
REFERENSI
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2018). Buku Data Bencana Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah. (2013). Rangkaian Kegiatan Peringatan 3 Tahun Erupsi Gunung Merapi.
Retrieved from Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Sleman:
https://bpbd.slemankab.go.id/rangkaian-kegiatan-peringatan-3-tahun-erupsi-gunungapi-merapi/
Bhayangkara, C. S. (2023, Maret). Sejarah Erupsi Gunung Merapi dari Masa ke Masa. Retrieved from Suara.com:
https://www.suara.com/news/2023/03/11/215223/sejarah-erupsi-gunung-merapi-dari-masa-kemasa?page=2.
(2018). Buku Data Bencana Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Chanson, H. (2013). Sabo Check Dams: Mountain Protection System in Japan. School of Civil Engineering, The
University of Queensland.
CV Inthisar Karya. (2021). Laporan Penilaian Kinerja dan Penyusunan AKNOP Bangunan Pengendali Sedimen
DAS Opak. Daerah Istimewa Yogyakarta: Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak
CV. Inthisar Karya. (2021). Laporan Inventarisasi dan Database DAS Opak. Daerah Istimewa Yogyakarta: Balai
Besar Wilayah Sungai Serayu Opak.
Fajarwati, Y., fathani, T. F., Faris, F., & Wilopo, W. (2020). Desain Sabo Dam Tipe Conduit Sebagai Pengendali
Daya Rusak Aliran Debris. Inersia Vol. XVI No.2.
Press Release Erupsi Gunung Merapi Tanggal 4 Maret 2024. (2024, Maret). Retrieved from Badan Geologi:
https://geologi.esdm.go.id/media-center/press-release-erupsi-gunung-merapi-tanggal-4-maret-2024
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air. (2014). Kajian Konsep Pondasi Mengambang pada
Bangunan Sabo. Jakarta: Badan Litbang Pekerjaan Umum.
Saputro, C. D. (2022). Evaluasi Kondisi Kerusakan Bangunan Sabo Dam Gunung Merapi. Seminar Praktik
Keinsinyuran 1 (pp. 67-68). Surabaya: Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Sari, M. M. (2017). Studi Analisa Distribusi Sebaran Jiwa Berdasarkan Usia dan Gender pada Peta KRB Erupsi
Gunung Merapi 2010. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, 44.
Sukatja, C. B., & Alfianto, A. (2017). Revitalisasi Sabodam sebagai Pengendali Aliran Lahar (Studi Kasus di Daerah Gunungapi Merapi. Jurnal Teknik Hidraulik Vol.8 No.1, 31, 38.