Observasi Run-up Tsunami pada Model Tsunami Berbasis Single segment dan Multi-segment (Studi Kasus: Peristiwa Tsunami Pangandaran 2006 di Kabupaten Cilacap)

Irfa Destrayanti, Benazir, Radianta Triatmadja
1 Magister Teknik Pengelolaan Bencana Alam, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, INDONESIA
2Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, INDONESIA
*Corresponding author: benazir@ugm.ac.id

INTISARI

Penelitian ini membandingkan dua skenario pemodelan tsunami, yaitu model sederhana (single segment) dan multi-segment (16 segmen), berdasarkan validasi terhadap data observasi run-up tsunami di pesisir selatan Jawa akibat gempa 17 Juli 2006 khususnya untuk wilayah Kabupaten Cilacap. Pemodelan tsunami menggunakan perangkat lunak COMCOT v1.7 menggunakan empat layer untuk meningkatkan ketelitian dalam penjalaran gelombang di pesisir untuk mengadapatkan ketinggian tsunami di titik pengukuran yang telah ditentukan. Hasil ketinggian tsunami kemudian divalidasi dilakukan menggunakan perhitungan parameter K (koefisien kesesuaian) dan κ (koefisien penyebaran) berdasarkan metode Aida dengan data observasi dari Lavigne et al. dan Tsuji (2021). Hasil validasi menunjukkan bahwa model single-segmen memiliki nilai K sebesar 0.7286 dan κ sebesar 0.3452, yang mengindikasikan bahwa hasil simulasi cenderung lebih rendah dibandingkan data lapangan meskipun model cukup stabil. Sementara itu, model multi-segmen menunjukkan nilai K sebesar 0.9514 dan κ sebesar 0.3033, menandakan rata-rata ketinggian pada model ini sangat mirip dengan rata-rata ketinggian hasil observasi. Dengan demikian, model multi-segment dinilai lebih representatif dalam menggambarkan sumber gempa yang realistis dan lebih sesuai digunakan untuk keperluan pemetaan bahaya dan perencanaan mitigasi tsunami.

REFERENSI

Aida. (1978). Source model from parameters. J. Phys. Earth, 57–73.
BPS. (2024). Data Strategis Kabupaten Cialcap.
BPS Kabupaten Cilacap. (2023). Kabupaten Cilacap dalam Angka 2023. In BPS Kabupaten Cilacap.
Imamura, F., & Anawat, S. (2012). Damage due to the 2011 Tohoku earthquake tsunami and its lessons for future
mitigation. Proceedings of the International Symposium on Engineering Lessons Learned from the 2011 Great
East Japan Earthquake, July, 21–30. http://www.gsi.go.jp/common/000060133.pdf
Kongko, W., & Schlurmann, T. (2011). the Java Tsunami Model: Using Highly-Resolved Data To Model the Past
Event and To Estimate the Future Hazard. Coastal Engineering Proceedings, 32, 25.
https://doi.org/10.9753/icce.v32.management.25
Lavigne, F., Gomez, C., Giffo, M., Wassmer, P., Hoebreck, C., Mardiatno, D., Prioyono, J., & Paris, R. (2007). 

observations of the 17 July 2006 Tsunami in Java. Natural Hazards and Earth System Science, 7(1), 177–183.
https://doi.org/10.5194/nhess-7-177-2007
Murotani, S., Iwai, M., Satake, K., Shevchenko, G., & Loskutov, A. (2015). Tsunami Forerunner of the 2011 Tohoku
Earthquake Observed in the Sea of Japan. Pure and Applied Geophysics, 172(3–4), 683–697.
https://doi.org/10.1007/s00024-014-1006-5
Murty, T. S., Aswathanarayana, U., & Nirupama, N. (2007). The Indian Ocean Tsunami.
Ohira, W., Honda, K., & Harada, K. (2012). Reduction of tsunami inundation by coastal forests in Yogyakarta,
Indonesia: A numerical study. Natural Hazards and Earth System Science, 12(1), 85–95.
https://doi.org/10.5194/nhess-12-85-2012
Tsuji, Y., Fachrizal, H. S., & Indra, G. (2021). July 17, 2006 Tsunami survey results due to the earthquake off the
southwest coast of Java Island. Research Report of Tsunami Engineering, 38, 45–68.
Widiyantoro, S., Gunawan, E., Muhari, A., Rawlinson, N., Mori, J., Hanifa, N. R., Susilo, S., Supendi, P., Shiddiqi,
H. A., Nugraha, A. D., & Putra, H. E. (2020). Implications for megathrust earthquakes and tsunamis from seismic gaps south of Java Indonesia. Scientific Reports, 10(1), 1–11. https://doi.org/10.1038/s41598-020 72142-z